Pitutur Leluhur
Nopember 7th, 2010 by tjelotehanrakjatPadha den eling,manungso urip ing donya amung antri pati. INGATLAH MANUSIA HIDUP DI DUNIA HANYA ANTRE MATI
Padha den eling,manungso urip ing donya amung antri pati. INGATLAH MANUSIA HIDUP DI DUNIA HANYA ANTRE MATI
Selalu sadar akan tujuan akhir kehidupan,akan menjadikan kita seorang manusia yang selalu memaknai semua peristiwa ,baik yang bisa di cerna oleh akal atau di rasa oleh indera. Hidup itu berat, tapi selalu menyenangkan,tapi butuh seni tersendiri untuk mencari hal yang menyenangkan dalam hidup yang penuh dengan beban.atau mengubah derita menjadì pengharapan.
Pemimpin-pemimpin kita boleh turun naik mimbar podium dan berbicara kepada rakyat,atas nama rakyat.Tetapi bila pemimpin kita belum bisa menahan nafsu ,belum bisa menghilangkan penyakit kotor dari jiwanya,apabila belum tahu cara untuk memerdekakan diri dari tabiat yang rendah,maka kesejahteraan rakyat tinggal di ujung lidah saja. Mudah-mudahan para pemimpin bisa membersihkan jiwa yang kotor dan bijaksana dalam bertindak,mengayomi dan melindungi rakyat.
Tulisan ini hanyalah kegalauan hati dari seorang anak bangsa yang mencoba berteriak dan merasa nuraninya terpanggil melihat keprihatinan kehidupan sosial bangsa ini. Bencana dan musibah yang datang silih berganti,pertikaian elit negeri yang tak pernah reda, kehidupan rakyat semakin merana, sebagai manusia yang punya nurani ingin rasanya berbuat sesuatu agar semua problem bangsa aneka kemelut dan krisis dapat segera berlalu,tapi apa daya.Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya rakyat,nun jauh dari pelosok yang cuman bisa mengharap.
Rakyat tidak pernah neko-neko. Mereka tidak butuh belas kasihan pemimpin ,mereka tegar menjalani hidup dengan aktivitasnya. Satu keinginan rakyat, para pemimpin menjalankan tugas dengan penuh amanah ,benar dan bersih.
Merenungi perjalanan republik ini semenjak era reformasi bukan semakin membaik kesejahteraan rakyat malah hampir mencapai titik nadir kehancuran. Era penguasa silih berganti,aneka macam kebijakan yang mengatasnamakan rakyat telah digulirkan,tapi kenapa belum menyentuh substansinya. Dari hari ke hari rakyat hanya di suruh menonton aneka dagelan politik yang tidak mendidik. Saling hujat,fitnah,kadang adu fisik dipertontonkan dengan vulgar di depan rakyat. Nilai kenegarawanan para elit negeri telah luntur,para elit tidak memberikan tauladan kebaikan kepada rakyat yang di pimpinnya. Bangsa ini mengharapkan pemimpin yang bisa dijadikan panutan,seorang pemimpin yang melindungi,mengayomi dan dapat merasakan keluh kesahnya rakyat.